Gaya rekrut google pada para calon karyawannya
memang unik bila dilihat dari sisi kebiasaan umum yang berlaku dalam sebuah
perusahaan. Di samping tidak membutuhkan ijazah para calon, perusahaan yang
bergelut di bidang internet ini pun punya strategi berbeda dalam merekrut
karyawannya.
Sebagaimana dirangkum dari business insider pada
juni 2013, selama ini google menguji psikis para calon karyawan dengan
mewawancarai. Namun kini cara lama itu telah ditinggalkan karena diangap tidak
relevan lagi. Misalnya pertanyaan seputar berapa jumlah stasiun pengisian gas dalam
suatu wilayah tertentu. Pertanyaan seperti itu dianggapnya seperti membuang waktu
saja.
Menurut pernyataan orang yang mengangani masalah
ini, pertanyaan tentang kejiwaan menjadikan para pelamar merasa pintar. Tapi
itu tidak melukiskan seberapa mampu seorang pelamar di dalam memprediksi dan
menganalisis masalah. Jadi berdasar pengalaman sebelumnya, kini google
melakukan taktik terbaru pada proses perekrutan. Seorang pelamar tidak lagi
diuji dengan pertanyan yang mengandung hipotesis, namun lebih kearah memancing
buat bercerita.
Penulis melihat bahwa memang ijasah saat ini tidak
bisa dijadikan acuan (setidaknya acuan yang bersifat mutlak) sebab banyak juga
orang-orang yang memiliki kecerdasan tanpa melalui pendidikan yang bersifat
formal. Belum lagi saat ini nilai dalam ijasah sangat diragukan bahwa itu
menggambarkan kemampuan seseorang dalam bidang tertentu. Jadi sebenarnya wajar
saja google melakukan itu. Baca tulisan pesawat terbang indonesia.
Lihat juga :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar